Kelangkaan BBM Lumpuhkan Mobilitas Warga Kalbar,DPD BPM Desak Pertamina Bertindak

Artikel274 Dilihat

JEJAKHUKUM.NET][

KLIK WARTAKU – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Barat terus meluas. Setelah lebih dulu terjadi di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, kelangkaan Pertalite kini merambah Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, hingga sejumlah daerah lainnya.

Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat. Antrean kendaraan mengular hampir di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sementara banyak kios bensin eceran dilaporkan kehabisan stok. Bahkan, tidak sedikit pengendara yang terpaksa mendorong sepeda motornya di tengah perjalanan akibat kehabisan bahan bakar.

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga mulai memukul aktivitas ekonomi masyarakat. Di sejumlah titik di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, antrean kendaraan memanjang hingga ke badan jalan sehingga berpotensi mengganggu arus lalu lintas. Banyak warga memilih membatasi perjalanan karena khawatir tidak memperoleh BBM.

Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPD BPM Kota Pontianak, Agus Chanigia, mendesak Pertamina bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk segera mengambil langkah konkret agar distribusi BBM kembali normal dan masyarakat tidak terus menjadi pihak yang dirugikan.

“Kami meminta Pertamina dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat segera bertindak cepat. Jangan sampai masyarakat terus dibuat resah akibat kelangkaan Pertalite yang semakin meluas. Kebutuhan BBM merupakan kebutuhan dasar yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat maupun perekonomian daerah,” tegas Agus.

Menurut Agus, berdasarkan informasi yang diperolehnya, antrean panjang terjadi karena adanya keterlambatan kapal pengangkut BBM yang memasuki alur Sungai Kapuas pada malam sebelumnya. Kapal tersebut dikabarkan harus menunggu air pasang sebelum dapat melanjutkan perjalanan menuju lokasi bongkar muat.

“Kami berharap penjelasan Pertamina Kalimantan Barat mengenai keterlambatan kapal di alur Sungai Kapuas benar-benar menjadi penyebab utama dan kondisi distribusi dapat segera pulih sehingga pasokan BBM kembali normal,” ujarnya.

Namun demikian, Agus menegaskan apabila penyebab kelangkaan ternyata bukan semata-mata akibat keterlambatan kapal, maka Pertamina harus bersikap terbuka kepada masyarakat.

“Kalau memang ada faktor lain di balik kelangkaan ini, Pertamina harus transparan. Jangan sampai muncul berbagai spekulasi yang justru membuat keresahan masyarakat semakin besar. Publik berhak mengetahui penyebab sebenarnya agar kepercayaan terhadap pelayanan distribusi BBM tetap terjaga,” katanya.

Ia juga meminta agar distribusi BBM di seluruh wilayah Kalimantan Barat menjadi perhatian serius sehingga kejadian serupa tidak terus berulang. Menurutnya, pemerintah bersama Pertamina perlu memastikan rantai pasok berjalan optimal, terutama mengingat tingginya ketergantungan masyarakat terhadap BBM untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Hingga berita ini diterbitkan, antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah SPBU di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Masyarakat berharap pasokan Pertalite segera kembali normal sehingga aktivitas ekonomi, transportasi, dan pelayanan publik dapat berjalan seperti biasa.