Naik Kuda Kawal KDM, Bupati Aep Bikin Warga Karawang Histeris di Kirab Mahkota Binokasih

Berita, Daerah370 Dilihat

Karawang, JEJAKHUKUM.net – Gemuruh sorak sorai warga memecah suasana malam di sepanjang jalur protokol Karawang saat dua pemimpin Jawa Barat tampil berdampingan di atas pelana kuda.

Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh terlihat gagah mengawal langsung jalannya Kirab Mahkota Binokasih bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM.

Momen itu langsung menyedot perhatian ribuan warga yang memadati ruas jalan Kota Pangkal Perjuangan. Kehadiran dua pemimpin daerah tersebut bukan hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga menghadirkan simbol kuat sinergi pemerintah provinsi dan daerah dalam menjaga budaya Sunda tetap hidup di tengah modernisasi.

Dengan mengenakan pakaian adat Sunda lengkap, Bupati Aep berada di barisan depan kirab budaya yang sarat nilai sejarah tersebut. Sesekali ia tampak menoleh ke arah warga sambil melambaikan tangan dari atas kudanya.

Sorak warga pun semakin pecah ketika nama Bupati Karawang itu diteriakkan bergantian dari berbagai sisi jalan.

“Pak Haji! Pak Haji Aep!” teriak warga penuh antusias.

Sapaan itu dibalas dengan senyum khas Aep Syaepuloh yang dikenal dekat dengan masyarakat. Bahkan di beberapa titik, Bupati Aep tampak memperlambat laju kudanya demi menyapa warga yang sudah menunggu sejak sore hari.

Bagi masyarakat Karawang, panggilan “Pak Haji” bukan sekadar sapaan biasa. Julukan itu menjadi bentuk penghormatan sekaligus kedekatan emosional warga terhadap sosok pemimpin yang dinilai sederhana, dermawan, dan mudah berbaur dengan masyarakat.

Kehadiran Bupati Aep dalam kirab budaya tersebut mendapat banyak apresiasi dari masyarakat. Tidak sedikit warga yang menganggap keterlibatan langsung sang bupati sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap pelestarian budaya leluhur.

“Luar biasa melihat Bupati kita ikut naik kuda mengawal KDM. Ini baru pemimpin yang benar-benar cinta budaya,” ujar salah seorang warga yang ikut menyaksikan kirab.

Kirab Mahkota Binokasih sendiri menjadi salah satu agenda budaya yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Sunda. Tradisi ini bukan sekadar arak-arakan biasa, tetapi simbol penghormatan terhadap warisan kerajaan Sunda yang masih dijaga hingga kini.

Malam itu, suasana Karawang berubah menjadi lautan manusia. Warga dari berbagai daerah rela berdesakan demi melihat langsung prosesi budaya yang berlangsung khidmat namun meriah tersebut.

Sinergi antara KDM dan Bupati Aep di atas pelana kuda seolah menjadi pesan tersendiri bahwa pembangunan daerah tidak boleh meninggalkan akar budaya dan sejarah.